Artikel

Tips Kelola Keuangan untuk Sandwich Generation

Sandwich atau roti lapis sangat lezat dinikmati, namun menjadi sandwich generation tidak mudah untuk dijalani. Ketika orang lain bisa leluasa merencanakan masa depannya, generasi sandwich harus menjadi tulang punggung keluarga. Apakah kamu termasuk salah satunya? 

Cara mengatur keuangan sandwich generation harus diperhatikan lebih cermat. Tentu kamu tidak ingin anak dan keturunanmu menjadi generasi sandwich juga, bukan? Guna memutus mata rantai sandwich generation, pahami cara berinvestasi terbaik dan siapkan dana pensiun lebih awal. 

Selengkapnya, ketahui lebih dalam tentang fenomena sandwich generation serta tips kelola keuangan yang tepat untuk memutus mata rantai sandwich generation. Simak penjelasan berikut!

Fenomena Sandwich Generation

Melansir laman Sikapiuangmu OJK, istilah sandwich generation atau generasi roti lapis pertama kali dicetuskan pada tahun 1981 oleh Dorothy A Miller yang merupakan profesor dan direktur praktikum Kentucky University. 

Sandwich generation adalah orang-orang dalam rentang usia 30-40 tahun yang kondisinya terjepit karena harus menanggung biaya hidup tiga generasi sekaligus, yaitu generasi di atasnya (orang tua maupun keluarga lainnya), dirinya sendiri, serta generasi di bawahnya (anak-anaknya). 

Sandwich generation banyak dijumpai di masa peralihan pola asuh yang terjadi saat ini. Pada generasi sebelumnya telah menjadi kebiasaan turun-temurun jika seorang anak harus menanggung biaya hidup orang tuanya. 

Banyak orang tua yang tidak memiliki perencanaan keuangan dan menggantungkan biaya hidupnya saat pensiun kepada anaknya. Hal tersebut disebabkan belum terjangkaunya literasi keuangan yang baik, terutama tentang pentingnya menyiapkan dana pensiun.

Seorang anak memang wajib berbakti kepada orang tua. Perlu dipahami bersama bahwa bakti tersebut berbeda dengan tuntutan memenuhi semua kebutuhan dan gaya hidup orang tua serta keluarga besar. Apalagi jika kondisi finansial sang anak terbatas.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang finansial, orang-orang mulai menyadari pentingnya perencanaan keuangan. Mulai dari menyiapkan dana darurat, mengatur cashflow, dan investasi, termasuk investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang.

Sehingga orang-orang yang memasuki usia tidak produktif memiliki cukup dana pensiun untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari. Generasi selanjutnya bisa leluasa merencanakan masa depan tanpa terbebani tuntutan ekonomi di luar kemampuan yang semestinya.

Cara Mengatur Keuangan untuk Memutus Mata Rantai Sandwich Generation

Sandwich generation perlu berupaya lebih keras untuk mencapai kondisi finansial yang sehat. Sebelum membuat perencanaan keuangan dan menentukan cara berinvestasi yang akan dilakukan, sangat penting membangun komunikasi dengan pasangan, orang tua, maupun keluarga yang ditanggung.

Tidak jarang orang tua, saudara, pasangan, maupun anak-anak menuntut semua keinginannya dipenuhi, tanpa mengetahui kondisi keuangan kita. Seyogianya kita membahagiakan mereka sesuai kemampuan, jangan memaksakan diri.

Sampaikan dengan baik kondisi keuangan kita saat ini dan perencanaan keuangan yang akan dibuat. Minta dukungan keluarga dan diskusikan bersama agar semua kebutuhan pokok bisa terpenuhi. Jika memungkinkan, ajak serta saudara-saudara untuk menanggung biaya hidup orang tua.

Selanjutnya, kita bisa mulai membuat perencanaan keuangan guna mencapai tujuan finansial. Melansir laman OJK, tips kelola keuangan untuk sandwich generation antara lain atur cashflow, siapkan dana darurat dan dana pensiun , dan investasi. 

Atur Cashflow

Cashflow atau arus kas yang sehat perlu dijaga, yakni pemasukan harus lebih besar dibandingkan pengeluaran. Ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu menambah penghasilan serta menekan pengeluaran.

  1. Cara Menambah Penghasilan

Ada banyak peluang di sekitar kita yang menjanjikan tambahan penghasilan. Kamu bisa mencari pekerjaan sampingan, menjadi freelancer, maupun mulai berbisnis. Berikut beberapa ide pekerjaan sampingan untuk sandwich generation yang bisa menambah penghasilan:

  • Berjualan online. Kamu bisa mulai berjualan kecil-kecilan secara online dengan menjadi reseller atau dropshipper. Sehingga modal awal yang harus dikeluarkan tidak terlalu besar.
  • Mengajar les privat. Kemampuan yang kamu miliki dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan penghasilan tambahan. Misalnya mengajar pelajaran sekolah, bahasa Inggris, berenang, bermain alat musik, dan lain-lain.
  • Menjadi penulis. Saat ini ada banyak platform kepenulisan yang menawarkan penghasilan tambahan. Kamu bisa bekerja secara online sebagai content writer, penulis novel, dan lain-lain.
  • Menjadi influencer media sosial. Apakah kamu suka membuat konten di media sosial? Kamu bisa memanfaatkan media sosial untuk menambah penghasilan. Caranya adalah dengan menjadi influencer berbayar yang mempromosikan produk.

Dalam memilih pekerjaan sampingan sebaiknya kamu menyesuaikan dengan skill yang dimiliki serta bidang yang digemari. Pastikan juga pekerjaan sampingan tidak mengganggu pekerjaan utamamu.

  1. Cara Mengurangi Pengeluaran

Selain menambah penghasilan, cashflow dapat diperbaiki dengan menekan pengeluaran. Bagi yang terbiasa boros dan konsumtif, tidak mudah untuk melakukan penghematan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi pengeluaran:

  • Catat semua pengeluaran. Dengan mencatat semua pengeluaran, kamu jadi lebih memperhatikan kemana saja alokasi dana digunakan. Sehingga secara tidak langsung akan menjadi rem saat ingin belanja berlebihan.
  • Tentukan prioritas kebutuhan. Jika ada keinginan untuk membeli sesuatu, pertimbangkan kembali apakah barang tersebut memang penting dan harus dimiliki. Belilah barang-barang yang memang benar-benar dibutuhkan.
  • Cermat memanfaatkan program promo. Adanya diskon, cashback, dan program promosi lain dapat dimanfaatkan untuk mengurangi pengeluaran. Jangan lupa tetap bijak dalam memanfaatkan program promosi.
  • Turunkan gaya hidup. Jika selama ini kamu terlalu boros dan mengejar gaya hidup tinggi, kamu bisa menurunkan gaya hidup agar lebih sesuai dengan penghasilan yang dimiliki.

Lakukan evaluasi secara berkala apakah usaha yang kamu lakukan untuk menekan pengeluaran sudah sesuai harapan atau belum. Kemudian perbaiki kesalahan yang dilakukan pada periode berikutnya.

Menyiapkan Dana Darurat dan Dana Pensiun

Sandwich generation lebih rentan terhadap risiko ekonomi mengingat ada banyak jiwa yang harus ditanggung. Apalagi dengan kondisi orang tua yang sudah lanjut usia dan tidak memiliki tunjangan kesehatan dan dana pensiun sendiri.

Risiko keuangan yang bersifat darurat bisa terjadi pada siapapun, seperti kecelakaan, sakit, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Risiko tersebut menjadi dua kali lebih besar bagi sandwich generation. Misalnya orang tua yang tiba-tiba harus menjalani operasi medis, adik mengalami kecelakaan lalu lintas, maupun anak-anak yang jatuh sakit.

Melansir Cermati.com, jumlah dana darurat bagi generasi sandwich dengan jumlah tanggungan 3-4 orang adalah setara 12 kali pengeluaran. Artinya jika pengeluaran per bulan sebesar Rp5 juta maka idealnya memiliki dana darurat sebesar Rp60 juta. 

Di samping dana darurat, kita juga perlu menyiapkan dana pensiun untuk memutus mata rantai sandwich generation di keluarga. Sesuai namanya, dana pensiun adalah dana yang ditabung sejak usia produktif untuk digunakan memenuhi biaya hidup di usia tidak produktif.

Manfaat dana pensiun antara lain untuk menyelamatkan anak-anak kita dari jebakan sandwich generation, menjadi bekal di hari tua, dan bisa digunakan sebagai modal berwirausaha agar tetap bisa berkarya setelah pensiun.

Melansir Tirto.id, cara menghitung dana pensiun adalah dengan mengalikan pengeluaran selama satu tahun dengan angka 25. Sebagai contoh jika pengeluaran per tahun sebesar Rp60 juta maka dana pensiun yang perlu disiapkan sekitar Rp1,5 miliar.

Mungkin ada yang berpikir jumlah dana pensiun terlalu besar dan sulit dikumpulkan. Kamu bisa mengikuti program Dana Pensiun pemberi Kerja (DPPK) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) agar bisa konsisten menyisihkan penghasilan untuk menyiapkan dana pensiun.

Investasi pada Instrumen yang Tepat

Cara berinvestasi yang tepat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan sandwich generation mencapai tujuan finansial. Kamu bisa memilih instrumen investasi yang tepat berdasarkan tujuan penggunaannya, jangka waktu yang dipilih bisa investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang.

  1. Investasi Jangka Pendek

Sesuai namanya, investasi jangka pendek adalah aktivitas penanaman modal untuk mendapatkan keuntungan di masa depan dalam kurun waktu yang relatif singkat, yaitu mulai dari tiga bulan sampai satu tahun saja. Untuk jangka waktu 1-3 tahun biasanya disebut investasi jangka menengah yang karakteristik dan jenisnya mirip dengan investasi jangka pendek.

Investasi penting untuk mencegah berulangnya sandwich generation

Jenis-jenis instrumen investasi jangka pendek antara lain:

  • Deposito bank, yakni bentuk tabungan di bank yang hanya bisa dicairkan sesuai tanggal jatuh temponya. Kamu bisa menentukan jangka waktunya mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, sampai 12 bulan. Dana deposito di bank dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan syarat tertentu.
  • Reksa Dana, yakni pengumpulan dana dari investor untuk dikelola manajer investasi. Macam-macam reksa dana diantaranya Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), reksa dana saham, serta reksa dana campuran. 
  • Surat Berharga Negara (SBN), yakni surat berharga yang diterbitkan oleh negara dan dijamin Undang-Undang. Jenisnya antara lain Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk, dan Surat Utang Negara (SUN).
  • Saham, yakni penyertaan modal di suatu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham bisa menjadi investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang tergantung cara berinvestasi yang dilakukan.

Investasi jangka pendek dipilih untuk memenuhi target keuangan jangka pendek. Pada umumnya investasi jangka pendek menawarkan imbal hasil yang relatif kecil dengan risiko rendah. Investasi ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi investasi.

  1. Investasi Jangka Panjang

Investasi jangka panjang adalah aktivitas penanaman modal untuk mendapatkan keuntungan di masa depan dengan jangka waktu yang lama atau lebih dari tiga tahun. Bahkan investasi jangka panjang bisa dilakukan untuk waktu 10-20 tahun.

Jenis-jenis instrumen investasi jangka panjang antara lain:

  • Emas, yakni logam mulia yang dalam jangka panjang dipercaya nilainya tidak terpengaruh oleh inflasi. Meskipun tidak menawarkan keuntungan yang besar, emas dapat menjadi pelindung nilai kekayaan kamu dari gerusan inflasi. Sehingga logam mulia ini cocok dijadikan investasi jangka panjang.
  • Obligasi, yakni surat bukti utang yang diterbitkan perusahaan maupun negara untuk debiturnya. Obligasi ini ada juga yang jangka pendek, namun umumnya memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun.
  • Tanah dan bangunan, yakni jenis properti yang populer dijadikan investasi jangka panjang. Apalagi jika lokasinya di kawasan yang terus berkembang, imbal hasil investasi ini bisa sangat besar, namun tentu saja dibutuhkan modal yang besar juga.

Investasi jangka panjang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang besar di masa depan, seperti dana pendidikan tinggi anak, biaya pernikahan, biaya ibadah haji, atau sebagai dana pensiun.

Menjadi sandwich generation bukanlah hal yang perlu disesali. Kamu harus bisa menerima kondisi yang telah terjadi. Fokusnya sekarang adalah bagaimana mencegah generasi selanjutnya mengalami himpitan ekonomi yang sama. 

Terapkan cara berinvestasi yang tepat dan siapkan dana pensiun yang cukup untuk memutus mata rantai generasi sandwich. Kamu bisa mengikuti tips kelola keuangan untuk generasi sandwich yang telah dijelaskan.

TAGS
#cara berinvestasi #dana pensiun #investasi jangka panjang #investasi jangka pendek #sandwich generation