Artikel

Mengungkap Hubungan Antara Puasa dan Detoksifikasi Tubuh

Ramadan akan tiba beberapa hari lagi. Pada bulan tersebut, umat Muslim akan menunaikan kewajiban ibadah puasa dengan menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan yang dapat membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga matahari terbenam. Walapun tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman selama lebih dari 12 jam, namun puasa memberikan banyak manfaat untuk tubuh. Salah satunya adalah detoksifikasi tubuh.

Manfaat Puasa

Para ahli berpendapat dengan membatasi asupan makanan akan berdampak pada kesehatan secara signifikan. Berikut 9 manfaat puasa bagi kesehatan tubuh:

  1. Menurunkan berat badan

Puasa adalah cara efektif untuk mengurangi asupan kalori dan meningkatkan pembakaran lemak dalam tubuh. Dengan catatan, saat berbuka puasa tidak makan secara berlebihan, membatasi makanan tinggi kalori, dan minuman dengan kandungan gula yang tinggi.

2. Mengontrol kadar gula darah

Berkurangnya kalori yang masuk dalam tubuh, akan berdampak pada berkurangnya resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak dapat merespons hormon insulin dengan baik, sehingga gula darah sulit diserap secara optimal untuk menghasilkan energi. Dengan menurunnya resistensi insulin, puasa dapat mengontrol kadar gula darah dan mencegah penyakit diabetes tipe 2.

3. Mengurangi risiko penyakit jantung

Puasa dapat membantu menurunkan faktor risiko penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan peradangan. Hal ini dikarenakan puasa dapat mengontrol kadar kolesterol dan meningkatkan metabolisme dalam tubuh.

4. Memperbaiki Fungsi Pencernaan

Puasa memberikan istirahat yang dibutuhkan bagi sistem pencernaan. Produksi asam lambung pun menurun ketika lambung kosong. Hal ini mencegah terkikisnya dinding lambung oleh asam karena tidak adanya makanan yang harus digiling. Pengikisan dinding lambung merupakan penyebab utama luka pada lambung. Selain itu puasa juga dapat mengurangi gejala gangguan pencernaan seperti gas, kembung, dan sembelit.

5. Baik untuk kesehatan mental

Menurut seorang psikiater bernama Ronny Tri Wirasto, puasa dapat menghilangkan stres. Karena dengan berpuasa, pola makan seseorang akan lebih teratur dan ini mempengaruhi hormon kortisol yang lebih terkontrol.

6. Meningkatkan kualitas tidur

Puasa dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, hal ini terjadi karena adanya korelasi antara kualitas tidur dan kadar gula darah seseorang. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Sebagian besar orang-orang merasa lebih segar dan bugar setelah berpuasa.

7. Penyerapan nutrisi lebih optimal

Dengan berpuasa, usus menjadi lebih bersih dari plak dan sisa makanan yang menempel pada dinding usus sehingga penyerapan nutrisi pun maksimal.

8. Mengurangi Inflamasi atau peradangan

Puasa telah terbukti memiliki efek anti inflamasi, yang berarti dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

9. Detoksifikasi tubuh

Manfaat puasa lainnya untuk tubuh yang akan dibahas secara lebih mendalam pada tulisan ini yaitu detoksifikasi tubuh. Saat berpuasa tubuh akan mengeluarkan toksin dan zat-zat berbahaya yang terakumulasi dalam jaringan lemak.

Apa Itu Detoksifikasi?

Detoksifikasi adalah proses biologis di mana tubuh membersihkan dirinya dari zat-zat berbahaya yang terakumulasi dari gaya hidup, pola makan serta efek lingkungan yang kurang sehat. Zat-zat beracun tersebut berasal dari makanan yang kita konsumsi ataupun dari lingkungan eksternal seperti polusi udara dan makanan yang terkontaminasi.

Tubuh manusia secara alami memiliki sistem detoksifikasi yang kompleks. Sistem ini terdiri dari 5 komponen utama yaitu hati, ginjal, paru-paru, kulit, dan usus besar. Kelima komponen tersebut bekerja untuk mengubah zat-zat beracun menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan dari tubuh, dengan cara berkeringat, buang air kecil, dan buang air besar. Namun, terkadang sistem ini dapat terbebani oleh pola makan yang tidak sehat, paparan zat-zat berbahaya, dan gaya hidup yang kurang aktif.

Tubuh yang tidak sakit belum tentu menandakan bahwa kita sehat. Namun di saat bersamaan, ketika kita merasa kurang bersemangat dan mudah lelah, hal ini menandakan bahwa tubuh memiliki banyak racun di dalamnya, yang jika terus dibiarkan akan membahayakan organ penting seperti hati dan ginjal.

Penelitian menyebutkan bahwa, tubuh yang menimbun banyak racun akan memberikan sinyalnya, seperti:

  • Lelah berkepanjangan

Mengantuk sepanjang hari meskipun telah tidur cukup dapat menjadi sinyal bahwasanya terdapat banyak racun pada tubuh. Tubuh akan bekerja dengan lebih keras untuk mengeluarkan racun-racun tersebut. Meminum kopi pun tidak akan menghilangkan rasa kantuk tersebut, namun akan membuat masalah semakin buruk.

  • Berat badan sulit turun

Bila kita sudah berolahraga dan membatasi asupan kalori dengan dengan rutin namun berat badan tak kunjung turun, bisa jadi karena tubuh kita menimbun banyak racun dan sudah masuk pada tahap mengganggu fungsi hormon alami tubuh.

  • Bau mulut

Sudah menyikat gigi dengan rutin, mengunyah permen karet atau permen pelega tenggorokan tetapi mulut masih bau. Ada 2 kemungkinan yang terjadi, yaitu sedang mengalami masalah pencernaan atau hati sedang berjuang untuk membuang racun-racun dari dalam tubuh.

  • Sembelit

Usus akan membuang banyak racun setiap harinya. Ketika sedang sembelit, maka racun-racun tersebut akan tetap tersimpan dalam tubuh. Hal ini menyebabkan perut menjadi tidak enak, sakit kepala, dan kelelahan. Sembelit dapat terjadi ketika kita banyak mengonsumsi makanan olahan yang penuh dengan bahan kimia, pestisida, dan pengawet.

  • Sensitif terhadap bau

Terkadang ada beberapa orang yang sensitif terhadap bau tertentu atau wewangian. Namun bisa juga menandakan bahwa tubuh sedang berjuang untuk membuang racun apabila sebelumnya kita tidak memiliki permasalahan dengan bau. Terutama jika kita menjadi sakit kepala atau mual setelah mencium bau tertentu.

  • Nyeri otot

Jika kita tidak sedang melakukan aktivitas berlebih namun mengalami nyeri otot, ini bisa menjadi tanda bahwa racun sudah masuk ke dalam otot dan persendian. Nyeri otot akibat racun akan terus terjadi secara berulang.

  • Reaksi kulit

Jerawat, ruam, dan masalah kulit lainnya menandakan bahwa tubuh sudah kelebihan racun. Jerawat juga dapat terjadi karena zat berbahaya yang terdapat dalam makanan atau produk perawatan kulit. Mata bengkak dan eksim juga dapat dijadikan tanda bahwa kandungan racun sudah melewati kadar yang dapat ditoleransi oleh tubuh.

Jika kita mengalami salah satu atau beberapa tanda yang disebutkan di atas, ini menandakan bahwa kita perlu untuk segera melakukan detoksifikasi tubuh. Salah satunya dengan berpuasa.

Bagaimana Detoksifikasi Tubuh Bekerja Saat Puasa

Saat berpuasa, sistem tubuh akan mengalami sejumlah perubahan dan memengaruhi proses detoksifikasi. Berikut adalah bagaimana sistem tubuh bekerja saat berpuasa, terutama dalam konteks detoksifikasi tubuh:

  • Metabolisme lemak

Perubahan yang terjadi akan memiliki dampak yang berbeda, tergantung dari berapa lama kita berpuasa. Secara teknis, tubuh akan memasuki “fase puasa” 8 jam setelah makan terakhir kita, yaitu saat usus telah selesai menyerap zat gizi dari makanan.

Pada kondisi normal, sumber energi pertama yang dibakar untuk melakukan aktivitas berasal dari glukosa yang tersimpan pada hati. Setelah tubuh memasuki “fase puasa” dan glukosa telah habis terpakai maka lemak akan menjadi sumber energi selanjutnya. Proses ini dikenal sebagai ketosis, di mana tubuh menghasilkan keton sebagai energi dari hasil pemecahan lemak setelah glukosa habis terpakai. Selain membantu menurunkan berat badan, ketosis juga membantu mengeluarkan toksin yang terikat dalam jaringan lemak.

  • Detoksifikasi Hati

Setiap harinya, hati berhadapan dengan berbagai racun dari polutan serta kimia berbahaya lainnya yang masuk ke dalam tubuh. Dan semua yang kita hirup dan makan pada akhirnya akan dibersihkan oleh hati. Terkadang, hati menyimpan racun dalam sel-selnya untuk melindungi tubuh.

Saat toksin masuk ke tubuh, hati akan mengalirkannya ke dalam saluran sinusoid yang terhubung dengan sel kekebalan tubuh yang disebut sel Kupffer. Sel ini lalu memakan toksin, mencernanya, dan membuangnya keluar dari hati. Ada kalanya hati tidak dapat melakukan detoksifikasi secara maksimal sehingga menyimpannya ke dalam jaringan lemak. Namun jika terjadi dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menyebabkan kerusakan pada hati.

puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk detoksifikasi tubuh

Selama puasa, kerja hati tidaklah seberat saat kondisi normal, sehingga ia dapat fokus untuk membersihkan dirinya sendiri dari toksin. Proses ini melibatkan sejumlah enzim dan jalur metabolik yang membantu mengubah toksin menjadi senyawa yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh.

  • Autofagi

Tubuh kita memiliki triliunan sel. Seiring berjalannya waktu, sel tersebut dapat rusak atau mengalami penurunan fungsi. Jika sel rusak ini terus dibiarkan, maka akan menyebabkan gangguan kesehatan, salah satunya yaitu risiko terkena kanker. Dengan berpuasa, tubuh akan memicu proses autofagi untuk meregenerasi sel-sel tubuh.

Saat berpuasa, sel-sel tubuh akan “kelaparan”. Proses inilah yang memicu proses autofagi dan menghancurkan sel yang telah rusak dan menggantinya dengan yang baru. Ini penting untuk mempertahankan kesehatan secara menyeluruh.

  • Sistem Limfatik

Sistem limfatik adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang bertanggung jawab untuk mengangkut sel-sel darah putih dan mengeluarkan toksin dari tubuh. Selama puasa, sistem limfatik dapat menjadi lebih efisien dalam membersihkan toksin karena tubuh tidak diberi tambahan beban dari proses pencernaan makanan.

Tips Agar Detoksifikasi Berjalan dengan Maksimal saat Berpuasa

Detoksifikasi melalui puasa memang menyehatkan, tapi jangan melakukannya secara berlebihan. Berikut 3 tips agar detoksifikasi lebih optimal saat berpuasa:

  1. Siapkan persediaan makanan sehat

Pilihlah makanan yang sehat dan bernutrisi untuk membuat menu berbuka dan sahur yang sehat, seperti buah-buahan, sayuran, hingga protein. Sayuran hijau memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, sehingga dapat membantu proses detoksifikasi, memaksimalkan regenerasi sel, serta membantu memelihara organ-organ penting dalam tubuh agar tetap sehat. Contohnya bayam, brokoli, dll. Buah-buahan pun memiliki peran penting dalam pemenuhan nutrisi dan membantu detoksifikasi.

Makanan tinggi nutrisi sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan harian kita, karena tubuh tidak akan mendapat asupan sama sekali selama lebih dari 12 jam. Jika kita mengonsumsi makanan rendah nutrisi, maka saat detoksifikasi, tubuh akan memecah jaringan otot untuk dijadikan sebagai sumber energi. Perlu diketahui bahwa tubuh tidak dapat membuang racun ketika kita mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang rendah.

2. Olahraga

Kita dapat menjadikan olahraga untuk mengisi kegiatan untuk menunggu berbuka puasa. Pilihlah olahraga ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda. Durasi waktu olah raga yang dianjurkan adalah sekitar 10 hingga 40 menit. Usahakan untuk tidak terlalu memaksakan diri karena bisa jadi tubuh sudah lelah beraktivitas sejak pagi hingga sore.

3. Cukup Tidur

Selama berpuasa, tidur lebih awal sangan direkomendasikan, karena kita pun harus bangun di awal untuk sahur. Dan saat istirahat siang pun dapat dimaksimalkan untuk tidur siang sejenak.

Puasa bukan hanya sekadar praktik spiritual, tetapi juga merupakan cara alami dan efektif untuk memulihkan tubuh dengan proses detoksifikasi. Selama puasa, beberapa organ penting tidak bekerja terlalu keras sehingga sistem tubuh dapat bekerja dengan lebih efisien untuk mengeluarkan toksin, memperbaiki sel-sel yang rusak, dan memulihkan keseimbangan internal. Dengan menjaga keseimbangan dan memperhatikan kebutuhan tubuh kita, puasa dapat menjadi sarana yang tepat untuk meningkatkan kesehatan spiritual dan jasmani secara keseluruhan.

TAGS
#Cara detoksifikasi tubuh #detoksifikasi adalah #detox alami #manfaat puasa untuk tubuh #membersihkan usus dengan puasa